Header Ads

Breaking News
recent

Cara Tukang Sate Jadi Jutawan


Cara tukang sate jadi jutawan - Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 18.00  wib akhirnya Saya memutuskan untuk berhenti sembari makan malam.  Saat Saya menghampiri warung  sate dengan asyiknya H Basri memanggangg sate dengan dibantu  karyawannya yang berjumlah enam orang  laki lki dan dua perempuan.


“Sate mas,” sapa H Basri menawarkan satenya.
Akhirya saya masuk dan mencari tempat duduk kosong sambil memesan sate kambing  10 tusuk dan sup  kambing  satu  porsi. Ternyata memang tidak salah, sangat puas menikmati hidangan yang telah disajikan, rasanya bisa menggoyang lidah. Harga  sate kambing  dan ayam
10 tusuk tergolong murah  cukup Rp 10.000, sup  kambing  per porsi Rp 10.000, ayam  bakar  Rp
7.000  per potong, nasi putih Rp 3.000  dan lontong Rp 1.000  per biji.



Dijelaskan  oleh H Basri bahwa dia berdangang sejak  tahun  1984,  berbagai pengalaman diceritakan. Sebelum menetap di Sukabumi lelaki 62 tahun  ini sempat singgah di kota Bandung menjadi  pedagang sate keliling selama 4 tahun  tidak ada  kemajuan yang akhirnya  memutuskan hengkang ke kota Sukabumi.



Berawal  dari semua itu akhirnya  H Basri meneruskan perantauannya ke kota Sukabumi, dengan tekat yang bulat berjuang keras melawan kerasnya kehidupan di kota. Dengan modal keberanian dan keahlian yang dimiliki H Basri tetap  konsisten dengan niatnya  untuk menjadi tukang  sate yang sukses dan terkenal.

Dari berjualan sate yang hanya menghabiskan ayam  2 sampai dengan 3 kg dan kambing  hanya
1 kg, H Basri tetap  gigih dalam  menajalani usahanya. Sempat terfikir olehnya untuk mencari tambahan dengan menjadi  pengumpul barang rongsokan.



Akan tetapi  keberuntungan belum berpihak kepadanya, yang akhirnya  memutuskan untuk tetap  menekuni satu  usaha saja menjadi pedagang sate. Seiring waktu berjalan dan dilandasi dengan tekat dan semangat yang bulat, lambat  laun warung  sate H Basri mulai ramai dan dikenal orang.



Selain  sate dan sup  kambing  yang enak  warung  sate H Basri juga menyiapkan menu  yang lain yaitu ayam  bakar  yang tidak kalah enaknya. Sekarang ini warung  sate H Basri sudah sangat terkenal dalam  seharinya bisa menghabiskan 30 sampai dengan 35 kg daging  ayam  dan 10 sampai dengan 13 kg daging  kambing,  dengan omset rata-rata mencapai Rp 4.500.000 sampai Rp 5.000.000 per hari.



Usaha H Basri memang terlihat sangat maju dengan omset yang lumayan besar, tentuynya tidak mudah dalam  meraihyna. Dengan dibantu  oleh 6 karyawan laki-laki dan 2 perempuan, H Basri mampu membayar karyawannya rata-rata Rp 1.500.000 per bulan  untuk karyawan
laki-laki dan Rp 1.000.000 per bulan  untuk karyawan perempuan.




Setiap hari mulai pukul 07.00  wib H Basri memulai  melakukan kegiatannya sehari-hari diawali dengan belanja ke pasar untuk mencari semua keperluan yang akan  digunakan untuk jualan hari ini.
Barang belanjaan sudah terpenuhui dengan dibantu  karyawannya mulai menyiapkan untuk mengolah daging  yng sudah dibeli dari pasar untuk dibuat  sate. Sekitar  pukul 13.00  wib semua perlengkapan untuk julan sudah selesai disiapkan.




Hari menginjak sore  pukul 15.30  wib H Basri dan karyawannya mulai bergegas untuk mendorong gerobak sate dan perlengkapan lainnya untuk berangkat menuju  tempat jualan yang jaraknya kurang  lebih 1 km dari rumahnya.
Setelah sampai langsung memasang tenda dan menyiapkan semua perlengkapan warung.  Pukul 15.45  wib warung  muali buka dan tak lama kemudian pembeli  mulai berdatangan.





Pada hari-hari tertentu seperti hari Sabtu atau  hari-hari libur lainnya warung  sate H Basri sangat ramai pembeli  seperti orang  mengantri di loket karcis sebuah pertunjukan musik.
Tidak sedikit orang  yang makan di warungnya dan banyak juga pesan untuk dibawa  pulang.
Malam mulai larut pukul 23.00  wib dagangan sudah habis  terjual mulailah berkemas-kemas untuk menutup warung.



Disisi lain H Basri juga sudah menjalin kerjasama dengan pengusaha catering di kota
Sukabumi, dan menerima pesanan dari orang  perorang.



Ahmad (16 tahun)  pemuda putus  sekolah (karyawan) yang berasal dari Bangkalan Madura mengakui bahwa warung  sate H Basri sangat maju, ramai dikunjungi pembeli  terutama pada saat hari- hari libur, pembelinya datang dari mana-mana bukan  hanya dari Sukabumi saja.


Bahkan sering  kualahan dan pusing  dalam  melayani pembeli  pada saat ramai semua pingin didahulukan. Selain  pandai memasak H Basri juga ramah dalam  melayani pembeli  dan sabar, tidak pernah marah, sering  becanda dan rendah hati. Sangat memperhatikan karyawan dan sering  membantu apabila diperlukan, baik kapada  karyawan maupun kepada warga  sekitar.



Asep (35 tahun)  tukang  parkir di depan warung  menuturkan bahwa sate H Basri sangat terkenal di kota Sukabumi karena rasnya sangat enak  dan lezat.  Pada hari-hari libur pembelinya bukan haya  dari Sukabumi saja  akan  tetapi  dari kota lain separti Bandung, Cianjur, Bogor dan Jakarta.



Selain  sukses dalam  uahanya H Basri juga sukses membina keluarganya, pria berusia 62 tahun ini dikaruniahi  5 orang  anak,  yaitu 2 laki-laki dan 3 perempuan,4 orang  anaknya sudah menyalesiakan pendidikan di perguruan tinggi. Tinggal satu  orang  anak  laki-laki saja  yang sekarang masih  duduk di bangku sekolah menegah atas.



Pada tahun  2002 H Basri melaksanakan ibadah Haji ke tanah suci berangkat bersama istri tercintanya. Dan pada tahun  2011 lalu H Basri melaksanakan Ibadah Umroh bersama istri tercinta  dan orang  tuanya.


Sebelum usahanya berhasil pria yang bersal dari Bangkalan Madura  ini hidup merantau dengan kondisi berpenghasilan pas-pasan cukup untuk membayar rumah  kontrakan dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.


Jarang sekali untuk bisa pulang  kampung belum  tentu setahun sekali.  Akan tetapi  tetap  gigih dalam  meperjuangkan kehidupan yang penuh dengan segala tantangan.
Dalam mengarahkan anak-anaknya H Basri selalu  menekankan bahwa semua harus diperjuangjkan tidak bisa datang dengan sendirinya. Tentunya dengan perjuangan yang sangat keras untuk meraih  sebuah kesuksesan. Dan tidak boleh  lupa untuk selalu  beribadah dan berdoa.




Dengan penampilan yang sederhana akan  tetapi  mampu membuat terobosan lain yang bisa membuat orang  lain menajadi simpati kepadanya, dibuktikan dengan dibentuknya sebuah komunitas warga  Madura  yang berada di wilayah Sukabumi, Bandung, Cianjur dan Bogor.
Atas kegiatan tersebut sampai sekarang tidak pernah tejadinya permusuhan diantara komunitas Madura  yang ada  di Sukabumi dengan komunitas lain, tutur H Basri.





Diusianya yang sudah tua, dengan dukungan dari keluarga, anak-anaknya dan sesama rekan seperantauan H Basri  masih  menginginkan untuk mengembangkan usahanya  tidak hanya berjualan sate di kota Sukabumi saja, akan  tetapi  berkeinginan untuk membuka usaha di tempat lain seperti di kota Bogor dan Jakarta. Semoga keinginan tersebuat suatu saat akan terwujud.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.